Belajar dari Kasus Audrey, Bagaimana Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak?

11 April 2019, at 13:00
0
0
Belajar dari Kasus Audrey, Bagaimana Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak?

Kasus Audrey sukses menyulut emosi masyarakat pada pelaku yang merupakan sejumlah siswi SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Apalagi katanya sang penganiaya berjumlah 12 orang dengan 3 pelaku utama. Sedangkan si korban hanya 1 orang yang merupakan remaja 14 tahun dan masih SMP.

Pemicu terjadinya kasus pembully-an dan kekerasan fisik ini dikabarkan karena asmara remaja dan saling sindir di media sosial, tepatnya lewat status dan komentar. Akibatnya, pelaku tersinggung dan menganiaya korban.

Terkait kasus ini, seorang Psikolog Anak dan Remaja, Anna Surti Ariani menilai pekaku adalah tipe anak yang mudah tersinggung. Alhasil, ia mengekspresikan perasaannya menjadi lebih agresif.

Baca juga: Hati-Hati! Mental Anak Bisa Rusak Saat Orang Tua Sering Ngomel

Sebenarnya untuk meredakan emosi para remaja ini, peran orang-orang terdekat, khususnya orang tua sangat penting lho. Bagaimana sih caranya? Yuk simak ulasan Qupas berikut yang sudah dikutip dari beberapa sumber!

1. Bentuk Karakter Anak Sejak Dini

karakter anak usia dini
pexels.com/@kelvinocta16

Belajar dari kasus Audrey, peran orang tua dalam mendidik anak terutama soal karakter sejak usia dini sangat penting, yaitu saat si kecil masih berumur 0-6 tahun.

Usia dini bisa dibilang merupakan waktu yang tepat dalam membentuk karakter anak. Soalnya di umur ini otak seseorang akan berkembang dengan sangat cepat, yaitu sekitar 80 persen. Ini artinya mereka bisa menyerap berbagai informasi tanpa peduli tentang baik atau buruknya.

pembentukan karakter anak sejak dini
pexels.com/@zun1412

Pengalaman anak saat awal kehidupannya, baik tahun atau bulan pertama dalam hidupnya juga menentukan kepribadian si kecil nanti saat ia dewasa. Nah, dari sini, orang tua berperan dalam memberikan pendidikan karakter.

Misalnya dengan menanamkan nilai-nilai moral, akhlak, agama, dan lain sebagainya. Dengan menerapkannya secara sederhana, si kecil yang masih dalam usia emas (golden age) ini kemungkinan besar akan lebih mudah menyerap segala informasi.

2. Jadi Orangtua Teladan di Depan Anak

keluarga harmonis
pexels.com/@rawpixel

Orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Begitu pula dengan rumah yang merupakan sekolah pertama bagi si kecil.

Sebagai guru yang baik, orang tua perlu juga mengajarkan hal-hal positif bagi anak. Misalnya dengan mengucapkan kata-kata baik untuk anak agar mereka juga meniru apa yang dilakukan orang tua.

orang tua harmonis
pexels.com/@panditwiguna

Pun demikian dengan perlakuan dan sikap. Tunjukan hal-hal baik pada anak karena kemungkinan besar ia juga akan melakukan hal yang sama pada orang tua.

Meski saat emosi, lebih baik orang tua menahan diri untuk nggak memukul anak. Beri saja pengertian tapi tetap tegas pada si kecil. Ini adalah cara yang lebih efektif.

3. Bangun Komunikasi yang Baik dengan Anak

bangun komunikasi dengan anak
pexels.com/@olly

Kasus Audrey juga mengingatkan tentang pentingnya komunikasi dengan anak. Ketika orang tua sering berinteraksi, seperti mendengarkan keluh kesah anak, tentu mereka bisa memberikan si kecil nasihat dan saran baik. Anak pun akan merasa aman dan nyaman saat mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Sebaliknya, saat orang tua mengabaikan atau bahkan meremehkan pembicaraan si buah hati, ini akan membuat anak-anak merasa diacuhkan. Atau mungkin mereka juga akan merasa kurang penting bagi orang tua.

ibu sharing dengan anak
womansday.com

Kemungkinan buruknya, anak bisa melampiaskan perasaan kesal terhadap orang tua atau bisa jadi pada orang-orang di sekitarnya.

Jadi lebih baik tetap dengarkan curhatan anak karena mereka juga perlu tempat untuk meluapkan segala keluh kesah selain dengan teman-teman mereka. Saran positif dari orang tua pun juga diperlukan.

Baca juga: Nggak Perlu Marah, Ini Cara Tepat untuk Atasi Anak yang Suka Bohong

4. Lakukan Pendekatan dengan Anak

pelukan ibu dan anak
pexels.com/@zun1412

Salah satu cara untuk melakukan pendekatan dengan anak adalah rajin memeluknya. Usap lembut kepala dan punggungnya, serta katakan bahwa Ayah dan Bunda sangat menyayanginya.

Dari sini, katakan juga kalimat-kalimat positif yang memacu anak untuk selalu melakukan tindakan terpuji. Kemungkinan besar ia akan lebih tenang dan terhindar dari sifat agresif.

Anna Surti juga menyarankan orang tua untuk mengajak anak melakukan permainan-permainan yang asyik untuk remaja. Misalnya saja yang mengandung unsur team building.

ibu dan anak
pexels.com/@anafrancisconi

Menurutnya, permainan tersebut akan membuat anak jadi nggak mudah tersinggung, nggak merasa direndahkan, dan nantinya nggak merendahkan temannya juga.

Bersama dengan tim, mereka akan saling mendukung untuk mencapai target tertentu. Alhasil, remaja nggak akan terpapar persaingan negatif, malah mereka berkompetisi secara sehat dan saling membangun kerja sama.

5. Minta Dukungan Keluarga atau Ahli

keluarga
pexels.com/@pixabay

Sebelumnya, cari tahu dulu ciri-ciri anak yang mudah tersinggung, contohnya adalah kasar dan sulit berinteraksi karena ia akan sangat menjaga perasaannya dengan tindakan tersebut. Kalau sudah menemukan tanda ini, lakukan pendekatan dengan anak.

Cari tahu juga apa yang menjadi pemicu kenapa ia sering mudah tersinggung. Dengan demikian, orang tua akan lebih mudah mencari solusi dan mengatasinya.

sharing dengan psikolog
alliedtravelcareers.com

Tapi saat sikap mereka sudah mengkhawatirkan dan orang tua nyaris nggak bisa mengatasinya, meminta bantuan keluarga atau para ahli adalah salah satu tindakan yang tepat.

Itulah beberapa cara untuk melakukan pembentukan karakter pada anak setelah belajar dari kasus Audrey. Intinya sebagai orang tua, Bunda dan Ayah harus lebih paham bagaimana mengontrol dan memperbaiki kebiasaan kurang baik dari anak.

Beri perhatian lebih dan kepercayaan pada anak. Ajarkan ia arti kasih sayang sesama manusia, utamanya pada teman atau keluarganya sejak usia dini. Maka ia nanti akan tumbuh jadi anak yang lebih bermoral dan beretika. Semoga juga nggak akan ada lagi Audrey Audrey yang lain ya!

0 Comment