Kisah Pilu Kakek Tunanetra yang Bertahan Hidup dari Rongsokan dan 20 Tahun Tidur di Pos Kamling

06 September 2019, at 10:00
0
0
Kisah Pilu Kakek Tunanetra yang Bertahan Hidup dari Rongsokan dan 20 Tahun Tidur di Pos Kamling

Banyak orang di dunia ini mungkin hidup dengan keadaan yang serba terbatas. Namun keadaan tersebut nggak akan mematikan semangat untuk terus meraih hidup menjadi lebih baik.

Kenyataan hidup serba keterbatasan itu lah yang harus diterima oleh Mbah Wardi. Saat berusia 35 tahun, ia harus mengalami kebutaan total.

Sejak saat itu, dunia seakan runtuh begitu saja. Namun, Mbah Wardi yang kini sudah berusia 70 tahun masih punya kobaran api semangat. Ia masih menjalani aktivitas layaknya orang pada umumnya, seperti mencari rongsokkan, menjadi buruh tani, hingga mencari pasir di sungai.

Baca juga: Viral Semangkuk Mie Ayam Rp2.000, ada Kisah Memilukan Dibaliknya

Hal tersebut harus dilakoni oleh Mbah Wardi untuk menyambung kebutuhan hidup dari hari ke hari. Mbah Wardi sebisa mungkin berjuang keras mengais rezeki walau menggunakan alat bantu tongkat.

Mengingat usianya yang nggak lagi muda, Mbah Wardi juga harus tidur dari pos kamling satu ke pos kamling lainnya. Pos kamling yang ada di desa Jambangan, Ngawi, Jawa Timur itu dijadikan tempat tinggal oleh Mbah Wardi.

ilustrasi pos kamling
anakbangsa-ku.blogspot.com

Ia pun harus tidur hanya dengan beralaskan baliho bekas kampanye. Dari satu kampung ke kampung lainnya, Mbah Wardi harus menjalaninya untuk mencari rongsokan sampah.

Nggak disangka, ternyata di sebuah pos kamling berukuran 2x3 M itu menjadi tempat tinggal Mbah Wardi selama 20 tahun ini.

Menurut penuturannya yang dilansir oleh Kompas.com, Mbah Wardi sebelumnya tinggal di samping pagar salah seorang warga di desa tersebut.

Mbah Wardi adalah seorang kepala keluarga dengan seorang istri dan tiga orang anak. Hanya saja, Mbah Wardi sudah ditinggal oleh sang istri tercinta yang meninggal di usia 35 tahun.

foto mbah wardi
regional.kompas.com

Salah satu orang anaknya, meninggal dunia. Dua orang anak lainnya nggak tinggal di kota yang sama. Mereka pergi merantau ke Kota Jambi mengikuti adik Mbah Wardi.

Sebelumnya, Mbah Wardi tinggal dalam gubuk di sebuah lahan pinjaman di daerah Jambangan Kulon. Namun, gubuk tersebut roboh dan membuat Mbah Wardi hidup menggelandang.

Kedua bola mata Mbah Wardi yang bermasalah itu terjadi bukan tanpa alasan. Mbah Wardi harus mengalami hal tersebut karena bekerja terlalu keras.

Baca juga: Lumpuh, Kakek ini Punya Cerita Mengharukan saat Rumahnya Didatangi Ular. Bikin Nangis!

Sejak kecil, Mbah Wardi harus bekerja keras sebagai buruh tani dan penggali pasir. Beban kerja seberat itu harus ia lakoni demi menghidupi keluarganya.

Hingga diagnosis dokter mata di Kota Madiun memvonisnya mengalami kebutaan karena saraf matanya rusak. Walau begitu Mbah Wardi tetap ingin bekerja keras tanpa mau merepotkan banyak orang.

mbah wardi di ngawi
regional.kompas.com

Lewat perjuangan hidup seorang Mbah Wardi yang terus berjuang di kala keterbatasan yang dialaminya, kita bisa belajar banyak akan pentingnya semangat menjalani hidup dan meraih hidup yang lebih baik.

Dari sosok Mbah Wardi kita juga bisa banyak belajar tentang arti bersyukur.

Topics:

0 Comment