Mengharu Biru, Dosen UPI Bantu Selamatkan Pramugari Garuda dari Reruntuhan Hotel Mercure

10 October 2018, at 09:35
0
0
Mengharu Biru, Dosen UPI Bantu Selamatkan Pramugari Garuda dari Reruntuhan Hotel Mercure

Dibalik kedahsyatan bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Doggala, Sigi, dan Palu pada 28 September 2018 yang lalu. Korban jiwa meninggal mencapai 2.010 orang.

Korban tewas dengan jumlah yang banyak ditemukan di Palu yang mencapai 1.601 orang, di Donggala 171 orang, di Sigi mencapai 222 orang. Sedangkan korban hilang hingga artikel ini ditulis mencapai 671 orang.

Tentu gempa dan tsunami yang melanda warga Palu dan sekitarnya menimbulkan trauma tersendiri. Khususnya untuk para korban bencana alam. Nggak heran, jika banyak warga selamat yang lebih memilih meninggalkan daerah untuk mencari keamanan.

hotel mercure palu
kumparan.com

Itu karena trauma dan rasa takut para warganya setelah tanah yang selama ini ditinggali diguncang gempa dengan kekuatan getaran mencapai 7,4 skala Richter. Nggak terkecuali juga seorang pramugari crew GA 608, yang saat itu menginap di Hotel Mercue bersama crew pesawat Garuda Indonesia lainnya.

Dari akun media sosial Instagramnya, ia membagikan kronologi dirinya berjuang selamat dari maut yang hampir saja merenggut nyawanya. Dari unggahan Instastory yang dia bagikan, Tria tiba di hotel pada pukul 17:00 Wita.

“Entah kenapa aku pengen bikin story ini karena cerah banget ditambah pemandangan bagus” tulis Tria sebagai kalimat pembuka ceritanya tentang gempa di Palu.

Saat ia dan rekan kerjanya tiba di Palu, sudah ada empat kali gempa yang terjadi. Peringatan gempa itu langsung dicabut oleh BMKG dan dinyatakan tidak ada gempa susulan yang berpotensi tsunami.

Tria pun melanjutkan aktivitas seperti biasanya ia tiba di hotel. Namun, semua perasaan biasanya itupun berubah drastis menjadi perasaan khawatir ketika ia melihat kaca kamar mandi yang peca, gelas jatuh berserakan dan ia pun tak mampu membawa tubuhnya sendiri.

Baca juga: Alasan Mengejutkan Kenapa Tsunami Palu Tak Terdeteksi Sebelumnya

Hingga gempa berhenti, Tria dan teman satu kamarnya mencoba keluar dari kamar dan menyelamatkan diri. Baru saja membuka pintu kamar, di luar kamar hanya terlihat reruntuhan dan asap putih tebal.

Sambil meminta perpotongan, datanglah dua orang bapak-bapak yang menginap di sebelah kamar hotelnya membimbingnya agar bisa keluar dari hotel. Selain itu mereka berempat, ada seorang ibu paruh baya yang juga membutuhkan bantuan.

Lokasi saat mereka akan menyelamatkan diri dirasa kurang aman, salah satu dari bapak-bapak itu mengusulkan sebuah ide untuk keluar melalui jendela menuju rooftop hotel. Usulan bapak itu pun disetujui oleh empat orang lainnya.

gempa palu
Facebook.com/Andika Dutha Bachari

Sesampainya di rooftop mereka pun turun dengan pipa besi sebagai pijakan kaki. Saat itu adalah penyelamatan diri yang berat, Tria pun juga bercerita tentang ibu paruh baya yang ikut dengannya terlepas dari pegangan  tangannya. Dan menyebabkan ibu itu mengalamai bocor di kepala.

Tria pun mengambil sebuah kain untuk menutupi luka ibu paruh baya itu. Di sisi lain, teman satu kamarnya yang bernama Kartika memiliki ide untuk turun ke bawah dengan berlari ke atap genting.

Namun, salah seorang bapak justru meneriaki datangnya tsunami. Tria kembali lagi ke posisi awalnya sambil sempat memiliki rasa putus asa atas gempa Palu. Hingga gelombang besar yang menyeret banyak manusia tak bernyawa itu hilir datang melewatinya. Ia pun hanya bisa berdoa.

Tsunami susulan yang juga datang dengan gempa susulan membuat Tria sempat melihat bangunan hotel yang terus bergeser ke kanan dan kiri. Hingga ia pun diselamatkan oleh rekannya bernama Dian dengan tangga untuk menuju ke daerah yang lebih tinggi.

Instagra.com/traiudtr

Singkat cerita, ia dan Kartika pun bertemu. Kemudia mereka dibawa menuju ke Masjid Agung sebagai tempat pengungsian yang dianggap aman. Kisah menakutkan yang dialami Tria akhirnya diceritakan saat ia menjadi salah satu tamu Mata Najwa.

Bapak yang ikut menolongnya pun menceritakan hal yang sama. Beliau adalah Andika Dutha Bachari, dosen di Universitas Pendidikan Indonesia. Menceritakan kisah perjuangannya untuk selamat dari bencana besar di akun media sosial Facebooknya.

Saat ini, mereka pun sudah menjalankan kehidupan sehari-harinya. Dengan kejadian bencana yang mereka alami, tentu menjadi pengalaman yang selalu mereka ingat sepanjang hidup. Tentang perjuangan melawan maut.

0 Comment