Sambel Tumpang, Makanan Lezat yang Jarang Terdengar Gaungnya

13 July 2018, at 11:00
2
0
Sambel Tumpang, Makanan Lezat yang Jarang Terdengar Gaungnya

Sambel tumpang pada jaman dahulu kerapkali disajikan pada upacara siraman bagi mempelai wanita menjelang pernikahan karena memiliki makna agar berkat Allah tumupang atau tertumpang bagi para mempelai yang akan melangsungkan acara perkawinan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sambel tumpang seringkali dijumpai sebagai menu pelengkap kuliner di beberapa daerah di Pulau Jawa.

 

Setidaknya ada dua daerah yaitu Solo, Jawa Tengah dan Kediri, Jawa Timur yang mengakui sambel tumpang sebagai kuliner tradisional daerah mereka masing-masing. Sambel ini terbuat dari tempe yang sudah difermentasi atau disebut dengan tempe semangit .

 

Sambel tumpang dengan kekhasannya, sebenarnya tidak hanya terbuat dari tempe semangit saja, tetapi dicampur dengan aneka bumbu lain seperti bawang putih, kencur, daun jeruk yang dibubuhi santan sehingga memiliki tekstur yang kental. Dengan perpaduan aneka rempah, sambel tumpang memiliki aroma yang khas dengan rasa gurih segar yang menggugah selera untuk dinikmati.

 

sambel tumpang

resepdanmasakan.com

 

Meski terbuat dari bahan yang sama, tetapi sambel tumpang di kedua daerah tersebut ternyata punya cara yang berbeda dalam penyajiannya. Di Kediri, sambel tumpang umumnya disajikan sebagai menu pelengkap hidangan pecel, sementara itu di Jawa Tengah sambel tumpang penyajiannya tidak melulu dipadukan dengan sayuran, tetapi bisa langsung disiramkan di atas nasi atau bahkan dicampur dengan kikil atau jerohan sapi dan dipakai sebagai pelengkap menu bubur atau bahkan mie rebus. Namun, saat ini sambel tumpang di Solo juga lazim digunakan sebagai menu pendamping pecel, seperti halnya yang ada di Kediri.

 

Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu keberadaan sambel tumpang mulai dilupakan. Meski masih banyak warung yang menawarkan menu unik ini, tetapi jumlahnya nyaris tidak mengalami pertambahan. Ironisnya, beberapa warung bahkan tutup karena kurangnya peminat atau tidak ada keturunan pemilik warung yang mau meneruskan usaha kuliner tradisional ini. Hadirnya kuliner kekinian dengan tampilan yang menggoda sepertinya turut andil menggeser keberadaan kuliner-kuliner tradisional yang bahkan nyaris punah di era modern ini. Sungguh sangat disayangkan, ya?

0 Comment