Seperti Kasus Audrey, Begini Cara Dampingi Anak Hadapi Trauma Pasca Dibully

11 April 2019, at 16:30
1
0
Seperti Kasus Audrey, Begini Cara Dampingi Anak Hadapi Trauma Pasca Dibully

Kasus kekerasan dan penganiayaan yang menimpa Audrey, gadis 14 tahun yang merupakan siswi salah satu SMP di Pontianak banyak menyita perhatian publik.

Bahkan beberapa hari yang lalu tagar #justiceforaudrey yang merupakan tuntutan keadilan dalam kasus tersebut sempat menduduki posisi pertama di twitter.

Petisi yang meminta pengusutan kasus ini secara tuntas dan adil pun telah ditantangani oleh lebih dari 3,6 juta masyarakat.

#justiceforaudrey
instagram.com/justiceforaudrey.official

Warganet menuntut pihak berwajib untuk memberikan hukuman yang seberat-beratnya untuk 12 anak SMA yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Saat ini, 3 orang sudah ditetapkan menjadi tersangka, sedangkan 9 lainnya sebagai saksi.

Nggak dapat dipungkiri, kasus ini pasti menyisakan trauma bagi korban. Kekerasan dan penganiayaan seperti yang dialami oleh Audrey dapat memicu insomnia, mimpi buruk, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya. Nggak cuma itu, anak juga bisa mengalami stres pasca-trauma jangka panjang (PTSD), lho.

Baca Juga: Beredar Video Ibu Marahi Anak di Tempat Umum, Begini Dampak Kekerasan Verbal pada Mental Si Kecil

Oleh sebab itu, kasus seperti ini membutuhkan penanganan khusus yang nggak mudah untuk dilakukan. Berikut ini cara mengatasi trauma pada anak korban kekerasan yang bisa diupayakan oleh orangtua.

1. Meningkatkan Komunikasi untuk Mengubah Rasa Ketidakberdayaan

meningkatkan komunikasi
todaysparent.com

Menurut Steven Marans, seorang profesor Psikiatri dari Yale School of Medicine, anak-anak korban kekerasan cenderung memiliki perasaan ketidakberdayaan.

Hal ini membuatnya kesulitan untuk mengungkapkan perasaan yang sebanarnya. Parahnya, korban seringkali merasa nggak bisa mengendalikan rasa kesendirian dan terisolasi pada dirinya.

Itulah mengapa orangtua harus meningkatkan komunikasi kepada anak agar bisa mengubah rasa ketidakberdayaan tersebut.

orangtua meningkatkan komunikasi
papodepai.com

Orangtua atau orang-orang terdekat harus peka apabila korban terlihat sedang memendam sesuatu. Nggak masalah sesekali membicarakan pengalaman traumatis tersebut untuk memancing anak mengungkapkan yang sebenarnya ia rasakan.

Cara ini juga akan membuat anak tahu bahwa orangtua nggak marah dengan hal itu dan justru memberikan dukungan padanya. Tapi, orangtua juga tetap harus peka dan tahu kapan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

2. Tunjukkan Bahwa Anak Berharga, Dicintai, dan Berikan Rasa Aman

berikan rasa aman
servicemaster-dsi.com

Anak-anak yang memiliki pengalaman traumatis terhadap kekerasan biasanya akan sering merasa cemas. Orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan rasa aman kepada buah hatinya.

Pastikan bahwa orangtua selalu ada untuknya dan berikan pengertian pada anak bahwa semua akan baik-baik saja.

tunjukkan ia berharga
jackiebrewton.com

Memang hal ini nggak akan mudah, tapi dengan selalu menunjukkan perlakuan-perlakuan kecil yang manis padanya, anak akan merasa dicintai dan berharga.

Jangan pernah menunjukkan kemarahan atau apapun yang merupakan bentuk tindakan kasar kepada anak karena hal itu akan memicu ingatan terhadap persitiwa traumatis yang ia alami. Nggak cuma itu, rasa aman yang dibangun juga akan runtuh dan sia-sia.

3. Biarkan Anak untuk Tetap Bersosialisasi

biarkan bersosialisasi
earth.com

Memberikan rasa aman pada anak bukan berarti mengurungnya untuk nggak bersosialisasi dengan teman sebaya. Memang wajar sih orang tua merasa khawatir dan nggak ingin hal serupa terulang kembali.

Tapi, bersosialiasi merupakan hal yang harus dilakukan oleh anak untuk kembali menumbuhkan rasa percayanya, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

bersosialiasi
technobezz.com

Nggak cuma itu, bermain dengan teman sebaya juga akan membuatnya merasa nggak kesepian dan ketakutannya sedikit demi sedikit berkurang.

Usahakan untuk membuat anak tetap bisa bersosialiasi dengan teman sebaya di bawah pengawasan penuh dari orang tua.

Baca Juga: Hal Sepele Ini Bisa Pengaruhi Kesehatan Mentalmu!

4. Alihkan Perhatian Anak pada Hal-Hal Positif

alihkan perhatian
parents.com

Anak-anak yang mengalami trauma cenderung bersikap murung, cemas, dan depresi. Oleh sebab itu, sebaiknya orangtua mengalihkan perhatian anak pada hal-hal yang positif.

Misalnya, mengajaknya bermain atau melakukan kegiatan yang ia sukai. Membaca, menggambar, melukis, bermain sepak bola atau kegiatan lain yang bisa membuat perhatiannya teralih.

Dengan demikian, ingatan tentang peristiwa traumatis dan pikiran negatif akan berubah menjadi lebih positif dengan kegiatan yang menyenangkan.

5. Minta Bantuan Pada Psikolog

minta bantuan
psychiatryadvisor.com

Orangtua mungkin juga membutuhkan bantuan orang lain dalam penanganan trauma anak terhadap kekerasan. Salah satunya adalah dengan meminta bantuan pada psikolog.

Dengan begitu, trauma anak akan ditangani dengan cara yang lebih efektif dan tepat. Selain itu, orangtua juga akan diarahkan bagaimana cara mengatasi kesulitan tersebut.

minta bantuan psikolog
therapycenters.com

Jangan pernah merasa enggan pergi ke psikolog karena takut dianggap gila dan lain sebagainya. Tanyakan dan mintalah bantuan pada yang lebih ahli jika memang merasa kesulitan.

Itu dia 5 hal yang bisa dilakukan oleh orangtua dalam menangani trauma pada anak yang mendapatkan kekerasan. Dukungan oleh lingkungan, terutama orangtua memang merupakan hal yang paling penting bagi anak.

Baca Juga: Punya 9 Kepribadian, Benarkah Perempuan Ini Gila?

Meskipun tertekan dan merasa bersalah dengan apa yang dialami oleh buah hati, orangtua nggak boleh menunjukkannya karena hal tersebut akan memperparah keadaan.

Tunjukkan hal yang positif pada anak sehingga ia bisa menyembuhkan trauma dengan lebih cepat.

Belajar dari kasus Audrey, semoga nggak ada korban-korban lain, ya!

0 Comment