Sering Menangis Tanpa Sebab? Jangan-jangan Kamu Derita Penyakit Ini

15 May 2019, at 07:00
0
0
Sering Menangis Tanpa Sebab? Jangan-jangan Kamu Derita Penyakit Ini

Pernah nggak kamu merasa ingin menangis dan pada akhirnya meneteskan air mata tanpa tahu apa yang membuatmu melakukan hal tersebut?

Kamu nggak sendirian kok, beberapa orang juga merasakan hal serupa. Dalam istilah medis, hal ini disebut sebagai hypophrenia.

Jadi, apakah yang dimaksud dengan hypophrenia dan apakah benar kamu mengalaminya? Berikut ini beberapa penjelasan tentang masalah kesehatan tersebut yang perlu kamu ketahui.

Baca Juga: Jangan Malu, Ini Manfaat Menangis Bagi Kesehatan yang Harus Kamu Tahu

1. Apa Itu Hypophrenia?

hypophrenia
pexels.com/@katlovessteve

Hypophrenia merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya merasa sedih dan sering menangis dengan tiba-tiba tanpa mengatahui apa penyebabnya.

Jika kamu mengalami hal tersebut, nggak lantas kamu dapat disebut sebagai penderita hypophrenia. Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan juga seperti gejala, penyebab, dan lain sebagainya.

2. Penyebab Hypophrenia

penyebab hypophrenia
buzzfeed.com

Orang-orang yang mengalami hypophrenia pada umumnya memang nggak mengetahui apa penyebab hal tersebut terjadi.

Akan tetapi sebenarnya ada penjelasan tentang hal tersebut. Berikut ini penyebab hypophrenia yang terjadi pada beberapa orang tanpa disadari.

  • Rasa Khawatir yang Berlebihan

Secara nggak sadar, banyak orang yang punya rasa cemas atau khawatir yang berlebihan. Hal ini menyebabkan gangguan tidur dan nafsu makan menurun. Oleh sebab itu, terjadi masalah pada fungsi otak dan mental sehingga orang tersebut mudah merasa sedih dan menangis.

rasa cemas yang berlebihan
pexels.com/@emre-kuzu-1112138
  • Hormonal

Perubahan atau gangguan pada hormon juga bisa menjadi penyebab terjadinya hypophrenia. Inilah yang membuat sebagian besar pengidap masalah kesehatan tersebut adalah perempuan.

  • Masalah Saraf

Hypophrenia juga diduga dapat disebabkan oleh beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan saraf seperti demensia, alzheimer, parkinson dan lain sebagainya.

Hal ini sering menimpa lansia karena terjadinya kemunduran fungsi otak atau kematian sel-sel otak.

trauma
pexels.com/@enginakyurt
  • Trauma

Ternyata trauma juga bisa menjadi penyebab hypophrenia, lho. Kenangan buruk di masa lalu tentang kekerasan, pelecehan, dan lain sebagainya atau ditinggalkan oleh orang tercinta juga bisa menjadi penyebabnya.

Baca Juga: Dampak Trauma Kekerasan Verbal Pada Kesehatan Mental Si Kecil yang Harus Diwaspadai

3. Gejala Hypophrenia

gejala hypophrenia
pexels.com/@nexionly

Gejala pertama hypophrenia adalah merasa sedih secara tiba-tiba dan diikuti dengan tangisan. Setelah merasakan air mata, barulah penderita menyadari dan berpikir tentang alasannya melakukan hal tersebut.

Gejala lain yang ditunjukkan oleh penderita hypophrenia adalah perubahan suasana hati yang tiba-tiba sehingga membuat perilaku dan lain sebagainya berubah.

4. Bahaya Hypophrenia

melakukan hal berbahaya
unas.ac.id

Meskipun terlihat biasa saja, namun hypophrenia dapat menurunkan kesehatan jiwa dan pikiran penderitanya apabila nggak mendapatkan penanganan yang tepat.

Penderita hypophrenia bisa saja menjadi lebih sensitif, nggak bergairah menjalani hidup, punya emosi yang nggak stabil, menjauhkan diri dari lingkungan, dan melakukan tindakan yang berbahaya.

5. Cara Mengatasi Hypophrenia

mengatasi hypophrenia
hopkinsmedicine.org

Apabila kamu mengalami hypophrenia, cara yang cepat dan cukup mudah untuk mengatasinya adalah dengan mencurahkan isi hati dan perasaan kepada orang terdekat dan dapat dipercaya.

Selain itu, kamu juga bisa meminta bantuan pada orang yang lebih ahli seperti psikolog untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat.

Baca Juga: Segera Periksa ke Dokter Sebelum Terlambat, Ini Tanda-Tanda Mentalmu Nggak Sehat

Setelah mengetahui seluk-beluk tentang masalah kesehatan mental hypophrenia, tentunya kamu bisa mengidentifikasi jika kamu mengalami hal serupa.

Namun, melakukan self diagnosis bukanlah sesuatu yang disarankan. Oleh sebab itu, periksakan diri ke psikolog untuk mengidentifikasi masalah tersebut secara tepat.

0 Comment