Suku di NTT Ini Nafkahi Pencuri Tanpa Dihukum, Kenapa Ya?

04 August 2019, at 17:00
0
0
 Suku di NTT Ini Nafkahi Pencuri Tanpa Dihukum, Kenapa Ya?

Setiap suku di Indonesia punya adat yang berbeda-beda. Seperti Suku Boti, Kecamatan Ki'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang punya aturan untuk menafkahi pencuri tanpa dihukum. Unik ya?

Selain itu, ada beberapa keunikan yang dimiliki oleh suku ini. Apa saja itu? Lanjut baca deh biar lebih tahu.

Baca juga: Berkenalan dengan Suku Polahi yang Punya Tiga Tuhan dan Tradisi Perkawinan Sedarah

1. Kenapa nggak ada hukuman untuk pencuri?

desa adat boti
instagram.com/mikaelaclarissa

Ternyata ada alasan tersendiri kenapa pencuri di sini nggak pernah dihukum. Dilansir dari Detik, masyarakat Boti percaya kalau para pencuri dihukum, maka mereka bakal terus mencuri saat barang hasil curian habis terpakai.

Maka sebagai solusinya, masyarakat Boti justru mengumpulkan barang-barang dari seluruh kepala keluarga yang ada di Desa Boti untuk diberikan para si pencuri.

Hal ini pun berlaku saat pencuri mengambil hasil kebun, misalnya seperti pisang, kelapa, atau apapun itu. Maka seluruh kepala keluarga akan menanam pisang atau kelapa dan diberikan pada pencuri sesuai dengan kebutuhannya.

2. Kerajaan terakhir di Pulau Timor

pemimpim suku boti
instagram.com/kupangnet

Siapa sangka, ternyata suku ini adalah kerajaan terakhir di Pulau Timor dan masih tetap bertahan sampai sekarang. Tempat ini pun biasa dikenal dengan nama Desa Adat Boti.

Kerajaan Boti dipimpin oleh seorang usif (raja, pemimpin adat sekaligus pemimpin spiritual), Namah Benu. Sampai sekarang masyarakat suku ini masih menganut agama nenek moyang mereka, yaitu "Halaika". Sementara bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Dawan (bahasa daerah masyarakat Timor) sebagai bahasa sehari.

Meski terlihat sepertu suku tertutup, tapi masyarakat Boti sangat menerima tamu yang ingin berkunjung dan menikmati kehidupan di desa tersebut. Bahkan destinasi di NTT ini sudah terbiasa menerima pengunjung dari dalam maupun luar negeri, lho.

3. Tradisi soal rambut

suku boti
instagram.com/lilputi

Keunikan lain dari suku ini adalah soal rambut. Ternyata masyarakat Boti sering mencuci rambutnya pakai tanah liat, lho. Jadi bukan pakai shampo seperti yang kita gunakan sehari-hari.

Selain itu, para pria yang sudah menikah juga dilarang memotong rambutnya. Mereka pun harus menggelungnya sampai berbentuk seperit konde. Nah, buat para ladies yang jomblo dan cari jodoh, cari pria yang nggak berkonde ya!

Baca juga: Mengulik Keindahan Wae Rebo, Desa di Atas Awan yang Mendunia

4. Desa yang teguh pada adat dan tradisi

pemintal kapas di boti
instagram.com/kupangnet

Desa ini pun masih teguh pada adat dan tradisi nenek moyang. Salah satunya dengan menghargai dan menghormati alam. Contohnya adalah kain tenun yang dibuat masyarakat Boti. Mereka menggunakan benang dan perwarna yang terbuat dari tanaman kapas serta pewarnaan dari daun-daunan dengan proses tradisional.

Mereka pun harus mengganti dengan menanam 5 sampai 10 pohon saat menebang salah satu pohon. Patut dicontoh nih!

tenun suku boti
instagram.com/sumurdiladang

Selain itu, anak-anak adat di lingkungan sonaf (kerajaan) terbagi menjadi dua. Sebagian boleh untuk sekolah. Sedangkan yang lain nggak diizinkan, tapi mereka akan menjaga dan meneruskan tradisi serta adat Suku Boti. Mereka yang nggak bersekolah bakal diajari untuk memenuhi kebutuhan sandang dan papan, seperti membuat minyak goreng, memanen, memintal kapas, dan lain sebagainya.

Ternyata masih ada ya suku di Indonesia yang seperti Kerajaan Boti ini. Buat kamu yang ingin tahu lebih banyak soal desa adat di Pulau Timor ini, coba deh liburan ke sana. Karena pasti kamu bakal dapat banyak pengetahuan setelah pulang dari sana, terutama soal menghargai alam.

0 Comment